MEMBAKAR MAHASISWA MENJADI AKTIVIS IDEOLOGIS
Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi*
Saya mengakhiri tugas mengajar semester ini dengan bahagia Sabtu lalu (23/01/10). Betapa tidak, nampaknya visi "pemberontakan" saya berhasil ditangkap, dimengerti, dan dihayati oleh para mahasiswa saya. Setidaknya sebagian dari mereka.
Resminya, mata kuliah itu bernama Perekonomian Indonesia (2 SKS). Kalau mengikuti silabus standar, isinya sangat normatif, membosankan, dan dapat membius. Ada pembahasan sejarah perekonomian Indonesia, para pelaku ekonomi Indonesia, kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan seterusnya. Text book oriented banget-lah. Saya pikir saya hanya akan memperbodoh mereka kalau hanya memindahkan isi text book ke dalam tempurung otak mereka. Harus diperkaya dengan wawasan faktual, dan tentu saja kritik ideologis.
Maka jadilah perkuliahan saya tidak terlalu mirip dengan kuliah standar akademik murni. Kuliah saya adakalanya mirip seperti pengajian, ketika saya menjelaskan betapa besarnya dosa riba dengan mengutip hadis-hadis Nabi SAW. "Satu dirham riba, kira-kira Rp 30.000, lebih berat dosanya daripada 36 kali berzina, masya Allah..." kata saya suatu ketika. Waktu itu saya sedang menerangkan kebijakan moneter yang bergelimang riba. Maklum, fokus kebijakan moneter adalah pengendalian suku bunga (discount rate policy).
Kuliah saya adakalanya juga mirip pidato seorang aktivis, ketika saya mencoba membakar mahasiswa untuk memberontak terhadap pranata kapitalisme yang ada. "Anda tidak boleh diam, Andalah harapan umat untuk mengubah sistem kapitalisme yang rusak ini menjadi sistem Islam. Kalian siap berjuang?" tanya saya penuh retorika kepada mereka. "Ya, Paaaak, siaaap," jawab mereka serempak. Tema kuliahnya waktu itu adalah "Pengkhianatan Penguasa dan Kufurnya Sistem Kapitalisme : Sumber Kebobrokan Ekonomi Indonesia." Coba, provokatif sekali, bukan? Mana ada materi kuliah seperti itu, kalau dosennya bukan aktivis ha..ha..ha....
Saya juga berusaha memperluas wawasan mereka. Saya minta mereka membuat resensi beberapa buku yang sudah saya pilih. Saya sengaja mencari buku-buku kritis yang bernada "pemberontakan". Ada buku yang diedit I. Wibowo dan Francis Wahono berjudul Neoliberalisme. Ada buku Revrisond Baswir, judulnya Bahaya Neoliberalisme. Buku lain berjudul Di Bawah Cengkeraman Asing karya Wawan Tunggul Alam. Ada buku Pak Amien Rais yang terkenal, Selamatkan Indonesia. Buku lain berjudul Globalisasi Bentuk Penjajahan Baru, karya Budi Winarno. Ada buku Kwik Gian Gie berjudul Indonesia Menggugat Jilid II. Juga ada buku karya Awalil Rizki dan Nasyith Majidi berjudul Utang Pemerintah Yang Mencekik Rakyat. Dan tentu tak ketinggalan buku George Junus Aditjondro yang menggetarkan kampung Cikeas, Membongkar Gurita Cikeas. "Buat resensinya ya, tapi jangan hanya meresume. Berikan analisis dan catatan kritis Saudara," kata saya tiga minggu lalu. Mereka juga saya beri isyarat, "Anda juga harus kritis terhadap buku-buku itu. Kalau mengkritik memang tajam, tapi buku-buku itu tumpul dalam memberi solusi, apalagi solusi dari perspektif ideologi Islam."
Maka mata saya pun berbinar-binar melihat beberapa resensi mereka. Judul-judul yang mereka buat menggambarkan munculnya daya kritis mereka. Penyelesaian Yang Tumpul , demikian salah satunya. Tulisan ini meresensi bukunya Pak Amien Rais (maaf Pak Amien, solusi Bapak dianggap tumpul oleh mahasiswa saya). Mengapa dianggap tumpul? Sebab Amien Rais hanya mengusulkan kembali pasal 33 ke UUD '45. Bukan kembali kepada Sistem Islam yang komprehensif. "Itu tumpul," vonis mahasiswa saya. Judul lain, Indonesia Ngontrak di Negeri Sendiri. Ini meresensi buku Di Bawah Cengkeraman Asing karya Wawan Tunggul Alam. Buku ini juga tak selamat dari kritikan mahasiswa saya. Mengapa? Karena penulisnya lagi-lagi hanya pandai mengkritik. Tapi (maaf) kurang cerdas dalam memberikan solusi yang mantap. Penulisnya telah rela memenjara kemerdekaan berpikirnya dalam sebuah pasal sempit yang bagaikan pasal karet, pasal 33 UUD '45. Tak ada wawasan ideologi lain yang diliriknya, yaitu ideologi Islam yang komprehensif.
"Hmm, nampaknya saya berhasil membakar mereka," pikir saya ketika meneliti satu per satu tugas resensi mereka. Maka saya pun menunda beberapa saat kepulangan saya. Asyik saja melihat judul-judul yang mereka buat. Padahal isteri dan anak sudah menunggu di rumah. Saya baru pulang menjelang maghrib, dengan rasa syukur yang mendalam. Sebuncah harapan terbit dalam hati saya. Telah lahir generasi aktivis ideologis yang menjadi harapan umat. Semoga. Insya Allah. [ ]
Bogor, 27 Januari 2010
*Dosen STEI Hamfara Yogyakarta, dan Pengasuh Pondok Pesantren Hamfara Yogyakarta. Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia. |